Tentang Pernikahan

Posted: June 26, 2010 in Uncategorized

PERNIKAHAN (3/3)

Untuk menguatkan ikrar, maka serah terima itu dalam pandangan
Imam Syafi’i tidak sah kecuali jika menggunakan apa yang
diistilahkan oleh Nabi Saw. dengan Kalimat Allah, yaitu dengan
sabdanya:

“Hubungan seks kalian menjadi halal atas dasar kalimat
Allah.”

Kalimat Allah yang dimaksud adalah kedua lafaz (kata) nikah
dan zawaj (kawin) yang digunakan Al-Quran. Imam Malik
membolehkanjuga kata “memberi” sebagai terjemahan dari kata
wahabat sebagaimana disinggung pada pendahuluan. Ulama-ulama
ini tidak menilai sah lafaz ijab dan kabul yang mengandung
“kepemilikan”, “penganugerahan”, dan sebagainya, karena
kata-kata tersebut tidak digunakan Al-Quran sekaligus tidak
mencerminkan hakikat hubungan suami istri yang dikehendaki
oleh-Nya. Hubungan suami istri bukanlah hubungan kepemilikan
satu pihak atas pihak lain, bukan juga penyerahan diri
seseorang kepada suami, karena itu sungguh tepat pandangan
yang tidak menyetujui lafaz mahabat (penganugerahan) digunakan
dalam akad pernikahan. Hubungan tersebut adalah hubungan
kemitraan yang diisyaratkan oleh kata zauwj yang berarti
pasangan. Suami adalah pasangan istri, demikian pula
sebaliknya. Kata ini memberi kesan bahwa suami sendiri belum
lengkap, istri pun demikian. Persis seperti rel kereta api,
bila hanya satu re1 saja kereta tak dapat berjalan, atau
katakanlah bagaikan sepasang anting di telinga, bila hanya
sebelah maka ia tidak berfungsi sebagai perhiasan.

Mengawinkan pria dan wanita adalah menghimpunnya dalam satu
wadah perkawinan, sehingga wajar jika upaya tersebut
dilukiskan oleh Al-Quran dengan menggunakan kata “menikah”
yang pengertian kebahasaannya seperti dikemukakan pada
pendahuluan adalah “menghimpun”.

Bahwa Al-Quran menggunakan kata wahabat khusus kepada Nabi
Saw. adalah merupakan satu hal yang wajar, karena siapa pun
dari umatnya wajar untuk melebur keinginannya demi kepentingan
Nabi Saw.

Demi Allah, kalian tidak beriman (secara sempurna)
sampai patuh keinginan hati kalian terhadap apa yang
kusampaikan.

Demikian sabda Nabi Saw. Dalam kesempatan yang lain Nabi
bersabda:

Salah seorang di antara kamu tidak beriman, sehingga
dia mencintai aku lebih dari cintanya terhadap orang
tuanya, anaknya dan seluruh manusia (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik).

Makna ini sejalan dengan firman Allah,

Nabi (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari pada
diri mereka sendiri (QS Al-Ahzab [33]: 6).

Itulah Kalimat Allah dalam hal sahnya perkawinan; kalimat itu
sendiri menurut Al-Quran:

Te1ah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil, dan
tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya (QS
Al-An’am [6]: 115).

“Dia penuh kebajikan” (QS Al-A’raf [7]: 137), lagi “Dan
kalimat Allah itulah yang Mahatinggi” (QS Al-Tawbah [9): 40).
Dengan kalimat itulah Allah menganugerahkan kepada Nabi
Zakaria yang telah berusia lanjut, lagi istrinya mandul,
“seorang anak bernama Yahya yang menjadi panutan, pandai
menjaga diri, serta menjadi Nabi” (QS Ali ‘Imran [3]: 39).
Dengan kalimat itu Allah menciptakan Isa a.s. tanpa ayah, dan
diakuinya sebagai “seorang terkemuka di dunia dan di akherat,
serta termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah” (QS
Ali ‘Imran [3]: 45).

Serah terima perkawinan dilakukan dengan kalimat Allah yang
sifatnya demikian, agar calon suami dan istri menyadari betapa
suci peristiwa yang sedang mereka alami. Dan dalam saat yang
sama mereka berupaya untuk menjadikan kehidupan rumah tangga
mereka dinaungi oleh makna-makna kalimat itu: kebenaran,
keadilan, langgeng tidak berubah, luhur penuh kebajikan, dan
dikaruniai anak yang saleh, yang menjadi panutan, pandai
menahan diri, serta menjadi orang terkemuka di dunia dan di
akhirat lagi dekat kepada Allah.

TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN

Cinta, mawaddah, rahmah dan amanah Allah, itulah tali temali
ruhani perekat perkawinan, sehingga kalau cinta pupus dan
mawaddah putus, masih ada rahmat, dan kalau pun ini tidak
tersisa, masih ada amanah, dan selama pasangan itu beragama,
amanahnya terpelihara, karena Al-Quran memerintahkan,

Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu
tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan
tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak
menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (di
balik itu) kebaikan yang banyak (QS Al-Nisa’ [4]: l9).

Mawaddah, tersusun dari huruf-huruf m-w-d-d-, yang maknanya
berkisar pada kelapangan dan kekosongan. Mawaddah adalah
kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Dia
adalah cinta plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya
kesal sehingga cintanya pudar bahkan putus. Tetapi yang
bersemai dalam hati mawaddah, tidak lagi akan memutuskan
hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang bercinta.
Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari
keburukan sehingga pintu-pintunya pun telah tertutup untuk
dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari
pasangannya). Begitu lebih kurang komentar pakar Al-Quran
Ibrahim Al-Biqa’i (1480 M) ketika menafsirkan ayat yang
berbicara tentang mawaddah.

Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati
akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong yang
bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu dalam
kehidupan keluarga, masing-masing suami dan istri akan
bersungguh-sungguh bahkan bersusah payah demi mendatangkan
kebaikan bagi pasangannya serta menolak segala yang mengganggu
dan mengeruhkannya.

Al-Quran menggarisbawahi hal ini dalam rangka jalinan
perkawinan karena betapapun hebatnya seseorang, ia pasti
memiliki kelemahan, dan betapapun lemahnya seseorang, pasti
ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari
keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha
untuk saling melengkapi.

Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk
kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka (QS
Al-Baqarah [2]: 187).

Ayat ini tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami-istri saling
membutuhkan sebagaimana kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi
juga berarti bahwa suami istri –orang masing-masing menurut
kodratnya memiliki kekurangan– harus dapat berfungsi “menutup
kekurangan pasangannya”. sebagaimana pakaian menutup aurat
(kekurangan) pemakainya.

Pernikahan adalah amanah, digarisbawahi oleh Rasul Saw. dalam
sabdanya,

Kalian menerima istri berdasar amanah Allah.

Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain
disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena
kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara
dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi
amanat itu.

Istri adalah amanah di pelukan suami, suami pun amanat di
pangkuan istri. Tidak mungkin orang tua dan keluarga
masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa
percaya dan aman itu. Suami –demikian juga istri– tidak akan
menjalin hubungan tanpa merasa aman dan percaya kepada
pasangannya.

Kesediasn seorang istri untuk hidup bersama dengan seorang
lelaki, meninggalkan orang-tua dan keluarga yang
membesarkannya, dan “mengganti” semua itu dengan penuh
kerelaan untuk hidup bersama lelaki “asing” yang menjadi
suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam.
Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia
merasa yakin bahwa kebahagiannnya bersama suami akan lebih
besar dibanding dengan kebahagiaannya dengan ibu bapak, dan
pembelaan suami terhadapnya tidak lebih sedikit dari pembelaan
saudara-saudara sekandungnya. Keyakinan inilah yang dituangkan
istri kepada suaminya dan itulah yang dinamai Al-Quran
mitsaqan ghalizha (perjanjian yang amat kokoh) (QS Al-Nisa’
[4): 21).

SUAMI ADALAH PEMIMPIN KELUARGA

Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari keluarga adalah
suami dan istri, atau ayah, ibu, dan anak, yang bernaung di
bawah satu rumah tangga. Unit ini memerlukan pimpinan, dan
dalam pandangan Al-Quran yang wajar memimpin adalah bapak.

Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin bagi kaum perempuan
(istri) (QS Al-Nisa’ [4]: 34).

Ada dua alasan yang dikemukakan lanjutan ayat di atas
berkaitan dengan pemilihan ini, yaitu:

a. Karena Allah melebihkan sebagian mereka atas
sebagian yang lain, dan

b. Karena mereka (para suami diwajibkan) untuk
menafkahkan sebagian dari harta mereka (untuk
istri/keluarganya).

Alasan kedua agaknya cukup logis. Bukankah di balik setiap
kewajiban ada hak? Bukankah yang membayar memperoleh
fasilitas?

Adapun alasan pertama, maka ini berkaitan dengan faktor psikis
lelaki dan perempuan. Sementara psikolog berpendapat bahwa
perempuan berjalan di bawah bimbingan perasaan, sedang lelaki
di bawah pertimbangan akal. Walaupun kita sering mengamati
bahwa perempuan bukan saja menyamai lelaki da1am hal
kecerdasan, bahkan terkadang melebihinya. Keistimewaan utama
wanita adalah pada perasaannya yang sangat halus. Keistimewaan
ini amat diperlukan dalam memelihara anak. Sedang keistimewaan
utama lelaki adalah konsistensinya serta kecenderungannya
berpikir secara praktis. Keistimewaan ini menjadikan ia
diserahi tugas kepemimpinan rumah tangga.

Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang makruf akan tetapi para
suami mempunyai satu derajat kelebihan atas mereka
(para istri)”. (QS A1-Baqarah [2]: 228).

Derajat itu adalah kelapangan dada suami terhadap istrinya
untuk meringankan sebagian kewajiban istri. Karena itu, tulis
Syaikh Al-Mufasirin (Guru besar para penafsir) Imam
Ath-Thabari, “Walau ayat ini disusun dalam redaksi berita,
tetapi maksudnya adalah anjuran bagi para suami untuk
memperlakukan istrinya dengan sifat terpuji, agar mereka dapat
memperoleh derajat itu.”

Imam Al-Ghazali menulis, “Ketahuilah bahwa yang dimaksud
dengan perlakuan baik terhadap istri, bukanlah tidak
mengganggunya, tetapi bersabar dalam kesalahannya, serta
memperlakukannya dengan kelembutan dan maaf, saat ia
menumpahkan emosi dan kemarahannya.”

“Keberhasilan perkawinan tidak tercapai kecuali jika kedua
belah pihak memperhatikan hak pihak lain. Tentu saja hal
tersebut banyak, antara lain adalah bahwa suami bagaikan
pemerintah, dan dalam kedudukannya seperti itu, dia
berkewajiban untuk memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya
(istrinya). Istri pun berkewajiban untuk mendengar dan
mengikutinya, tetapi di sisi lain perempuan mempunyai hak
terhadap suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan
diskusi.” Demikian lebih kurang tulis Al-Imam Fakhruddin
Ar-Razi.

Sekali lagi, kepemimpinan tersebut adalah keistimewaan tetapi
sekaligus tanggung jawab yang tidak kecil.

Kalau titik temu dalam musyawarah tidak diperoleh, sehingga
keretakan hubungan dikhawatirkan terjadi, maka barulah keluar
kamar menghubungi orang-tua atau orang yang dituakan untuk
meminta nasihatnya, atau bahkan barulah diharapkan campur
tangan orang bijak untuk menyelesaikannya. Dalam konteks ini
Al-Quran berpesan,

Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
keduanya, maka utuslah seorang hakam (juru damai) dari
keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari ke1uarga
perempuan. Jika keduanya (suami istri dan para hakam)
ingin mengadakan perbaikan, niscapa Allah memberi
bimbingan kepada keduanya (suami istri). Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Nisa’
[4]: 35).

TUJUAN PERKAWINAN

Sepintas boleh jadi ada yang berkata, apalagi muda mudi, bahwa
“pemenuhan kebutuhan seksual merupakan tujuan utama
perkawinan, dan dengan demikian fungsi utamanya adalah
reproduksi”.

Benarkah demikian? Baiklah terlebih dahulu kita
menggarisbawahi bahwa dalam pandangan ajaran Islam, seks
bukanlah sesuatu yang kotor atau najis, tetapi bersih dan
harus selalu bersih. Mengapa kotor, atau perlu dihindari,
sedang Allah sendiri yang memerintahkannya secara tersirat
melalui law of sex, bahkan secara tersurat antara lain dalam
surat Al-Baqarah (2): 187,

Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan
nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi
maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
(istri-istrimu), dan carilah apa yang ditetapkan Allah
untukmu.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Istri-istri kamu adalah ladang (tempat bercocok tanam)
untukmu, maka datangilah (garaplah) ladang kamu
bagaimana~ saja kamu kehendaki (QS Al-Baqarah [2]:
223).

Karena hubungan seks harus bersih, maka hubungan tersebut
harus dimulai dan dalam suasana suci bersih; tidak boleh
dilakukan dalam keadaan kotor, atau situasi kekotoran. Karena
itu, Rasulullah Saw. menganjurkan agar berdoa menjelang
hubungan seks dimulai.

Beberapa ayat Al-Quran sangat menarik untuk direnungkan dalam
konteks pembicaraan kita ini adalah:

(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi
kamu dan jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dan
jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula,
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan cara itu …
Tidak ada sesuatu pun yang serupa denan Dia, dan Dia
Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al-Syura
[42]: 11).

Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusia pun
demikian, begitu pesan ayat di atas. Tetapi dalam ayat di atas
tidak disebutkan kalimat mawaddah dan rahmah, sebagaimana
ditegaskan ketika Al-Quran berbicara tetang pernikahan
manusia.

Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah
adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan
agar kamu (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari
(pasangan)-nya, dari dijadikannya di antara kamu
mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang
berpikir (QS Al-Rum [30]: 21).

Mengapa demikian? Tidak lain karena manusia diberi tugas
oleh-Nya untuk membangun peradaban, yaitu manusia diberi tugas
untuk menjadi khalifah di dunia ini.

Cinta kasih, mawaddah dan rahmah yang dianugerahkan Allah
kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat
tetapi mulia. Malaikat pun berkeinginan untuk melaksanakannya,
tetapi kehormatan itu diserahkan Allah kepada manusia.

Demikian sekilas pandangan Al-Quran tentang pernikahan, tentu
saja lembaran kecil ini tidak menggambarkan secara sempurna
wawasan Kitab Suci itu, namun paling tidak apa yang
dikemukakan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran umum.
Semoga.[]

CATATAN KAKI

1 Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang didalam
Al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya
untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.

2 Mahmud Syaltut l959: 253.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s